Bloger Amatir

Polisi? Capee deh!

Posted by: sufimatre on: April 14, 2008

Bukannya tidak menghargai kerja keras Kapolda Jabar, tapi kalau punya anak buah bego, jadi kasian Pak Susno.

Hari ini, tadi pagi, saya telp ke Polwiltabes dengan keperluan nanya tarif resmi perpanjangan SIM B1. Si Bapak diseberang Telp menganjurkan saya untuk langsung menuju Mobil SIM yang lagi mangkal di Ciwalk. Dengan pertimbangan lebih dekat, saya langsung meluncur ke TKP. Di Ciwalk, orang berjejal seperti mau antre sembako. Seorang petugas duduk dikursi membagikan formulir. Mengingat takut mengganggu orang yang antri duluan saya tidak berani menyela untuk bertanya. Saya lebih memilih membaca poster yang terpampang di body mobil. Tak ada tarif yang tertulis, tak ada petugas cadangan, dengan samar-samar karena kaca mobil gelap saya melihat seorang ibu-ibu di dalam, entah lagi ngerjain apa. saya coba hubungi nomor telp bagian informasi yang tertulis diposter itu. Orang diseberang telp menganjurkan saya langsung datang ke Polwil? Apa gak gila tuh? bukannya tadi saya disuruh datang ke mobil SIM? alasannya katanya untuk sim B1 hanya bisa dilayani di Polwil. Karena keperluan saya hanya untuk mengetahui tarif, saya minta aja no telp Polwiltabes Bandung bagian SIM dan saya diberikan sebuah nomor. Coba tebak jawaban apa yang saya terima dari Polwiltabes bagian SIM itu? dengan enteng seorang ibu-ibu menjawab tidak tahu! alasannya orang bagian SIM-nya sedang tidak ada ditempat. Padahal itu sudah jam 09.30 WIB. Ketika saya jelaskan maksud saya ingin tahu tarif resmi perpanjangan SIM B1, si Ibu memberikan saya no telp yang lain. Karena saya benar-benar perlu, saya coba telp ke nomor yang diberikan si Ibu (no Flexy). Menurut orang yang saya hubungi di no terakhir ini, tarif SIM udah murah, tapi saat saya tanya pastinya berapa, dia jawab sekitar 300rb-an. Karena ingin kepastian saya pancing dengan pertanyaan bagaimana kalau ternyata lebih besar dari itu? dengan tidak kalah entengnya menganjurkan saya bawa uang lebih banyak!

Saya terhenyak. Betul juga ya, kenapa saya jadi bego begini…tapi kira-kira perlu bawa duit berapa ya? ada yang tahu?

Tapi, bukankah kesatuan yang berada dibawah Polwiltabes, Polres Bandung Barat sudah mendapatkan sertifikasi ISO untuk layanan publik? Masa ditanya tarif SIM aja susahnya minta ampun! Dapat sertifikasinya dari lembaga mana sih?

Pilgub Jabar : Fantastik!

Posted by: sufimatre on: April 14, 2008

Apa yang tersaji dari hasil Quick Count adalah gambaran yang sangat nyata dan indah. Jawa Barat patut berbangga. Inilah hasil sebuah pesta demokrasi yang memberi kejutan kepada semua orang, bahkan juga kepada tim sukses pemenang.

Saya termasuk yang pesimis dan memandang sebelah mata kehadiran HaDe dikancah Pilgub Jabar. Dengan figur baru dan dana terbatas mereka seperti hadir dengan semangat untung-untungan. Satu hal yang saya lupa dan luput dari pengamatan (hampir semua orang), masyarakat sudah demikian cerdas, dewasa dan merasa jenuh dengan kehadiran tokoh-tokoh lama. Mereka benar-benar menginginkan perubahan dan penyegaran. Saya benar-benar dibuat malu, memandang masyarakat (rakyat) Jawa Barat selama ini terlalu rendah. Sebelumnya, saya beranggapan suara masyarakat dapat dibeli dengan uang atau ditukar sembako alakadarnya. Namun ternyata era itu sudah berlalu. Setidaknya Jawa Barat sudah memberikan contoh dan bukti kepada dunia, uang dan popularitas bukan segala-galanya.

Inilah hasil yang membalik logika. Sebelum hasil Quick Count (QC) dipublikasikan ke masyarakat luas, tidak ada seorang pun yang berani memberikan prediksi (logis) kemenangan kepada pasangan HaDe. Tidak berlebihan rasanya jika saya membandingkannya dengan kemenangan Ahmadinejad di Iran. Sama-sama berangkat dari bukan siapa-siapa. From zero to hero.

Inilah kemenangan rakyat. Suara nyaring sempurna untuk para birokrat yang ke geeran merasa sudah berbuat banyak. Inilah tamparan paling nyata untuk politisi yang kebanyakan bicara. Kemenganan ini ibarat kain lap yang menyumpal mulut mereka yang sering mengaku-ngaku membawa aspirasi dan suara masyarakat.

Ini juga bisa menjadi semacam peringatan kepada siapapun yang akan maju di Pilpres 2009, berhati-hatilah, anda akan dipilih oleh masyarakat yang sudah cerdas dan jenuh dengan muka-muka dan tabi’at lama.

Terakhir, Selamat untuk Tim Sukses HaDe yang telah bekerja keras. Selamat berjuang!

Hari ini, saya bangga menjadi warga Jawa Barat.

Pilkada Jabar 2008 : Jendela Pemilu dan Pilpres 2009

Posted by: sufimatre on: April 10, 2008

Pilkada Jabar

Konon Pilkada Jabar mendapat perhatian dari masyarakat (media) barat. Mungkin karena Jawa Barat bisa dianggap representasi Indonesia dalam skala yang diperkecil. Meskipun memiliki jumlah penduduk dan luas wilayah yang hampir sama namun kompleksitas dan keragaman yang dimiliki Jawa Barat rada lain misalnya ketika dibandingkan dengan Jawa Timur. Perbedaan ini terutama sangat terlihat dari peta politik calon pemilih. Di Jawa Barat tidak ada partai yang benar-benar dominan seperti halnya PKB di Jawa Timur dan Golkar di Sulawesi Selatan.

Jika Melihat konfigurasi politik dari sebaran kursi di DPRD sebaran itu terlihat lebih merata dan lebih seimbang, konfigurasi ini lebih mendekati pola sebaran di DPR. Dari sinilah mungkin orang melihat Pilkada Jabar bisa menjadi prototipe dari gambaran suara Pemilu 2009 bukan hanya untuk melihat siapa mengalahkan siapa tapi lebih kepada mencari pendekatan politik paling mungkin untuk mempersiapkan strategi paling jitu dalam rangka meraih kursi diparlemen dan mengantarkan jagoannya merebut RI-1.

Golkar dan PDIP sebagai dua partai dengan suara terbanyak di DPRD Jabar saat ini akan menjadi dua lokomotif utama yang akan bersaing menempatkan jagoannya masing-masing. Siapapun yang berhasil memenangkan Pilkada Jabar pasti akan memberikan implikasi langsung terhadap gaya dan pendekatan politik dalam menghadapi Pemilu 2009.

Jika pasangan Dhani Setiawan-Iwan Sulanjana (Da’i) berhasil memenangkan Pemilu bisa dipastikan duet SBY-JK akan diperpanjang untuk masa lima tahun kedepan. Kemenangan Da’i jika benar-benar terjadi adalah kemenangan SBY-JK. Da’i adalah cetak biru kekuatan SBY-JK dari sisi manapun kita melihatnya. Da’i bukan hanya bisa dilihat sebagai koalisi Golkar-PD tapi juga Sipil-Militer dan pemegang kekuasaan (incumbent). Namun sebaliknya jika Da’i kalah Golkar bisa melihat ada alasan untuk meninggalkan Demokrat dengan mengusung jagoannya sendiri.

Pasangan Agum Gumelar dan Nu’man Abdul Hakim (Aman) yang merupakan koalisi gemuk multi partai bisa menjadi alat untuk mengukur sejauh mana mesin politik bisa memainkan perannya. Kekalahan Aman pada Pilkada Jabar hanya akan memberikan lampu kuning kepada Megawati dan PDIP untuk lebih berpikir keras mencari strategi agar jangan sampai kalah untuk kedua kalinya di 2009.

Adapun pasangan Ahmad Heriawan dan Dede Yusuf (Hade) dari awal masa penjaringan calon saya tidak melihat ada target maksimal dari pasangan ketiga yang merupakan koalisi bonsai PAN-PKS. PKS dan PAN yang berbasis sama di wilayah perkotaan dan belum mampu menjamah pelosok daerah, jelas terlihat memaksakan diri dan berharap keberuntungan yang nyaris mustahil. Kalau pun ada target, saya melihatnya hanya sebagai ajang pemanasan untuk mengukur potensi suara mereka di Pemilu 2009.

Konfigurasi inilah kira-kira yang akan dijalankan di Pemilu dan Pilpres 2009. Jika kecenderungan ini menguat kesimpulannya adalah masyarakat Indonesia tidak akan benar-benar mempunyai presiden baru di 2009. Jika bukan presiden yang ditetapkan sebagai presiden lagi alternatifnya adalah wakilnya yang naik menjadi presiden, atau mantan presiden menjadi presiden lagi.

Ayo pilih yang mana?

Domain dan Hosting Gratis. Lumayan…

Posted by: sufimatre on: April 9, 2008


Saya ada info bagus dari ilmuwebsite.com yang ditulis oleh Anggi Orochimaru. Selamat menikmati…

Selamat siang semuanya, kali ini saya akan coba menunjukkan suatu kombinasi yang efektif, efisien, sempurna dan gratis…

Tutorial ini merupakan rangkuman dan gabungan dari dua tutorial sebelum nya, yaitu domain gratis dan hosting gratis

Dari hasil riset saya selama 3 hari mengenai perpaduan domain gratis dan hositng gratis, saya menemukan titik temu yang sempurna.

Pertama target riset saya lakukan terhadap dua penyedia domain redirection gratis yaitu uni.cc dan co.cc, setelah saya teliti ternyata mereka berdua menyediakan “modify DNS”, ya… “modify DNS” adalah fasilitas untuk mengarahkan DNS domain ke hosting kita, feature ini sangat bagus mengingat penyedia free domain redirection yang lain hanya memberikan redirection biasa dan hanya sebatas cloaking…(Cloakig tidak efektif dan dibenci google)

Riset yang kedua adalah saya mengorbankan 3 free hosting, 1 blog dan 2 server berbayar, sebagai test.. hehe, mereka yaitu :

Hosting Gratis dan blog
1. blogspot.com
2. 50webs.com
3. Free Hostia (freehostia.com)

Hosting Berbayar
1. Server Indo
2. Server US

Test penggabungan co.cc dengan 50webs.com, DNS saya arahkan ke 50webs.com, pihak co.cc ok..!!, tapi setelah saya cek ternyata pihak 50webs.com memberikan “0″ addon domain (alias tidak mengizinkan “addon domain”, katanya sih harus upgrade )…. Test gagal..

Test penggabungan co.cc dengan blogspot, saya pernah mengecek settingan nya bloggger katanya bisa di tambahkan domain kita…, tapi setelah saya cek ternyata mereka hanya menerima child name server (ghs.google.com) bukan DNS…Test Gagal..

Test penggabungan co.cc dengan dua hosting berbayar ku hehehe.., Server Indo ama Server US, dan hasilnya gagal semua ini karena Server Indo Time Out jika di akses dari US atau Internasional, terus yang Server US paketnya tidak memberikan Addon Domain,..(kasusnya sama dengan 50webs.com)

test yang terakhir saya lakukan kepada uni.cc dan Free Hostia (freehostia.com), saya coba mengawinkan mereka berdua dan ternyata kawin juga bos…hehe..
saya cek ternyata Free Hostia (freehostia.com) menerima “addon domain”

Caranya:

1. Langsung saja DNS nya uni.cc arahkan ke Free Hostia (freehostia.com), NS-nya ada, lihat saja pada menu Addon Domain
2. Lalu pada cPanel Free Hostia (freehostia.com) pilih Addon Domain, masukkan domain kamu tadi, ex: ilmuwebsite.uni.cc (tanpa www)
3. Tunggu 24 jam dan Bingo…!!, serasa menggunakan Domain dan Server berbayar…


Cara ini berlaku juga dengan co.cc

Silahkan coba..Gratis..
Oh iya saya belum coba gabungan dengan DNS wordpress.com, apakah teman2 udah pernah coba?? bagi pengalamannya dengan comment di sini ya.. :)

Demokrasi dan Gus Dur

Posted by: sufimatre on: April 7, 2008

”Pelopor demokrasi apaan…” Dengan ketus Arbi Sanit menyindir Gus Dur ketika dimintai pendapatnya soal pemecatan Muhaimin Iskandar. Saya sih tidak kaget Arbi Sanit bilang begitu. Bang Arbi adalah salah seorang pengamat politik yang tidak pernah bisa jernih ketika dia menilai Gus Dur. Arbi Sanit dan juga banyak pengamat memang sudah membawa gen untuk tidak bisa pro Gus Dur dalam hal apapun, semacam penyakit rabun Gus Dur. Kalau tidak salah Bang Arbi berasal dari Sumatera Barat.

Tapi bukan hanya Bang Arbi dan orang-orang Sumatera Barat yang kehilangan akal sehat mengikuti sepak terjang Gus Dur. Arek-arek Suroboyo dan banyak ulama Jawa mulai kehilangan jejak dan tertatih-tatih sambil mencak-mencak mengikuti Gus Dur. Kita dan kebanyakan orang sering menganggap Gus Dur itu Sinting. Gelar yang demikian menistakan itu bukan hanya tidak pantas tapi juga sangat melukai kita sebagai sebuah Bangsa. Jika Gus Dur benar-benar sinting dalam pengertian yang sebenar-benarnya,

bukankah lebih sinting Amien Rais yang telah mendorong Gus Dur untuk menjadi Presiden? Dan itu artinya sebuah pembenaran bahwa kita lebih sinting karena telah memilih para anggota dewan yang sinting?

Dari awalnya kelahirannya Gus Dur memang diciptakan untuk berbeda. Bagi sebagian orang, terutama tipe pekerja keras dan disiplin Gus Dur adalah contoh paling valid bahwa dunia tidak berputar linear. Life is not fair begitu kata orang. Pada masa belia saat orang-orang seusianya belajar menghapal aturan-aturan fiqh yang baku ia malah asik melahap buku-buku yang oleh sebagian orang diharamkan untuk dibaca. Saat berada diluar negeri dengan ijin kuliah, waktunya malah lebih banyak dihabiskan diwarung kopi, kongkow dengan orang-orang underground musuh penguasa. Saat Sebagian ulama kerepotan membimbing umat, Gus Dur memilih menjadi komentator sepakbola dan film. Soeharto pernah disebutnya sebagai satu-satunya musuh, tapi pada saat yang sama dia menyatakan Tutut adalah calon pemimpin masa depan. Saat sebagian orang masih merinding mendengar kata ’PKI’ Gus Dur merehabilitasi orang-orang yang diduga terlibat Gestapu. Saat orang-orang Cina banyak dimusuhi, Gus Dur mengaku menjadi Bapak angkat mereka. Saat Inul dicaci maki, Gus Dur bilang goyang ngebor bukan masalah yang perlu diributkan. Dari sini bisa ditarik kesimpulan, jika anda dimusuhi orang banyak berlindunglah kepada Gus Dur.

Paradoks, kontradiksi, kejanggalan dan inkonsistensi adalah nama tengah Gus Dur dan itu mengantarkannya menjadi Presiden! Sebuah prestasi yang tidak bisa dihapus sejarah.

Kini, saat semua partai berbenah menyambut pesta demokrasi 2009, Gus Dur malah berulah dengan memecat Ketua Umum PKB. Setelah era Matori dan Alwi hal ini rupanya semakin menguatkan dugaan orang bahwa PKB adalah Gus Dur dan Gus Dur adalah PKB. Maka saya sangat tidak mengerti jika ada orang-orang yang ingin menegakan demokrasi di PKB. Dari awal kelahirannya PKB sudah cacat demokrasi. Alasannya, demokrasi tak pernah cocok dengan Gus Dur. Pertengahan 90-an saat Gus Dur mendapatkan kehormatan dengan gelar Panglima Demokrasi, hal yang sebenarnya terjadi adalah Gus Dur menunggangi demokrasi untuk sebuah agenda yang anti demokrasi. Dan hanya untuk hal ini Gus Dur sangat konsisten.

Saat Gus Dur keluar terusir dari Istana, dia memilih keluar dengan menggunakan (maaf) kolor (saya bersyukur warnanya bukan Ijo). Dia terusir dengan tidak hormat, dituduh maling! dan saya ingat betul siapa orang-orang yang demikian getol meneliti dan menginvestigasi kasus itu sehingga keluar sebuah kalimat sakti „Gus Dur patut diduga terlibat…“. Sebagian orang-orang itu sekarang masih menjadi menteri. Hartanya pasti sudah berlipat-lipat. Padahal dalam operasi bilangan, kelipatan biasa digunakan untuk perkalian akar pangkat. Sementara tabungan gaji menteri hanya bisa dipahami dengan operasi penjumlahan. Jika anda pusing, sekali-sekali tanyakan kepada KPK.

Dengan kapasitas moral yang demikian besar yang dipunyai para bandit senayan, mereka cukup meyakinkan masyarakat bahwa Gus Dur bersama tukang pijatnya berkolaborasi membobol uang negara. Jika anda ingat jumlahnya, jauh dibawah yang digondol Wijanarko. Kini, PDIP mengaku partai paling oposisi. Bahkan sebelum pemerintah sempat mengeluarkan sepatahkatapun PDIP akan segera menimpalinya „No!“. Maka sekarang lah saat yang tepat bagi SBY memuji Megawati sebagai pemimpin yang sukses, meski hanya 2 tahun memimpin.

Pemilu 1999 menempatkan Indonesia menjadi negara besar ketiga yang sukses membangun demokrasi. Konon hanya kalah oleh Amerika Serikat dan India. Indonesia mendapat pujian berbunga-bunga dari seluruh dunia sebagai bangsa besar dengan demokrasi yang cantik dan molek (karena gemuk) bahkan genit (perhatikan saja iklan pilkada di TV) namun diam-diam hal yang luar biasa sesungguhnya tengah terjadi dan kita nyaris menganggapnya tidak ada hubungannya dengan Demokrasi.

Setelah era Orde Lama tahun 1965, tak pernah ada pemandangan rakyat antri semua jenis kebutuhan dasar. Jerigen berjejer hampir satu kilometer! Harga seliter minyak tanah lebih mahal dari Pertamax! Inilah era pemecahan rekor besar-besaran! Lihatlah faktanya seorang mentri pribumi (sebelumnya tak pernah ada pribumi) menjadi orang terkaya di Indonesia saat menjadi menteri koordinator kesejahteraan rakyat. Dia berhasil menjalankan tugasnya dengan sangat sempurna! Semua jenis komoditas naik kepuncak tertinggi hampir bersamaan. Angka kemiskinan dan pengangguran terus diperdebatkan namun orang menjadi gila dan bunuh diri hampir terjadi setiap hari. Subsidi energi, bunga hutang, dan belanja aparat Negara menghabiskan 70% APBN. Semua ini benar-benar terjadi dalam bingkai Demokrasi yang cantik dan seksi!

Bagi saya yang dibesarkan dengan romantisme Nahdlatul Oelama, Gus Dur adalah manifestasi ideal dari pemimpin di era krisis. Pemimpin yang berani keluar dari kungkungan sistem dan berani mengambil resiko. Tak peduli sistem itu nyaris di kultuskan sebagian besar orang di Dunia, What the hell about democracy, jika demokrasi hanya menghantarkan rakyat keujung neraka. Begitu kira-kira.

Orang normal diantara orang gila, tentu akan dianggap gila!

Atau mungkin saya yang sudah gila?

Ekseskusi

Posted by: sufimatre on: April 7, 2008

“Saya tidak punya uang sebanyak itu” Gumamnya dengan wajah penuh kecemasan. Butiran peluh telah larut melapisi kulit wajahnya yang kelebihan lemak. Mengkilat.

Musa menarik nafas dalam-dalam. Ini usahanya yang terakhir sebelum dia benar-benar kehabisan banyak waktu dan kesabaran.

”Saya tidak minta semua. Berikan saja yang bukan hak mu” Kembali Musa mengajukan permintaan yang sama dengan setengah mencibir.

Lelaki itu, sang pesakitan kembali tertunduk. Kelelahan dan kecemasan sangat tampak dari kantung matanya yang bengkak. Pada beberapa bagian wajahnya tonjolan lebam menyisakan rasa sakit yang ngilu sampai ke tulang. Warnanya seperti anggur tua yang busuk. Sorot matanya memelas. Kemeja putih yang dikenakannya kini tampak seperti handuk yang lembab, digenangi keringatnya sendiri. Keringat dingin yang tak henti-hentinya mengalir dipicu adrenalin yang bergejolak. Kematian seolah-olah bisa menjemputnya kapan saja. Setetes darah segar yang hampir mengental kembali jatuh dari bibirnya yang luka.

Hening kembali mendera. Hening yang dalam, hingga setiap orang dapat mendengar dengan jelas suara tarikan napasnya sendiri-sendiri. Diluar, suara hutan tak pernah berubah. Angin mengelus pohon-pohon tua dilapis suara-suara aneh dari mahluk-mahluk kecil yang cerewet.

Siang hampir padam. Langit mendekati merah mengantarkan cahaya setengah.

”Habis waktuku.. ” Musa beranjak dari kursinya. Dari jendela gubuk kayu tua itu Musa menatap lepas keujung hutan yang kelam seperti hendak memberi isarat kepada seseorang yang duduk dibalik kemudi landrover tua diujung jalan.

Musa mengambil dua langkah mendekati lelaki itu. Kini dia berada tepat didepannya yang terkulai tak berdaya, terduduk dalam sebuah kursi kayu tua yang dibuat seadanya. Tangan terikat kebelakang, tanpa sepatu. Celana yang dikenakannya nyaris tak menyisakan keanggunan barang mewah. Keindahannya lenyap bersama ego yang tengah diperkosa.

Bunyi pelatuk pistol yang ditarik terdengar laksana petir yang menyambar diatas kepala. Ujung pistol yang dingin ditempelkan dikening lelaki itu. Dingin logam yang beku malah terasa seperti ditempel besi membara. Laksana seorang pemahat yang sedang mencari garis-garis inspirasi, Musa menurunkan moncong pistolnya perlahan-lahan melewati pelipis meninggalkan garis keringat yang tergerus lalu melewati pipi yang empuk dan berakhir tepat dibawah dagunya yang gemuk seperti perut sapi.. Lelaki itu nyaris tak punya leher. Lemaknya menggumpal tak ada bedanya dengan punduk Unta.

”Besar sekali cintamu pada uang haram itu” Musa berujar sambil diangakatnya wajah lelaki itu perlahan. Musa menatapnya dalam. Tatapan tajam yang siap menembus dinding ego manusia manapun. Mencabik-cabiknya menjadi serpihan-serpihan kecil berserakan. Tatapan laksana sinar gamma yang menembus hingga dasar tak bertepi. Tak ada yang mampu menahannya.

”Kau berani menukarnya dengan nyawamu” Kembali kalimat datar meluncur dari mulut Musa. Tak ada gertakan dan bentakan. Musa mengucapkan kata-katanya seperti setengah bergumam seolah membiarkan gelombang suaranya mengalir lembut merambati syaraf-syaraf pendengaran lawan bicaranya dengan perlahan. Ia seperti ingin memastikan setiap kata-katanya jatuh lembut ditempat yang tepat laksana dedak air yang berjatuhan pada dasar gelas selepas diaduk berputar. Pelan.

”Tatap wajahku lekat-lekat. Biar kau ingat aku kelak dihadapan Tuhan” Suara yang nyaris tak terdengar, namun mengalirkan energi yang demikian besar.

Kembali hening mendera. Dari kejauhan terdengar suara raungan sebuah mobil meninggalkan irama kengerian yang semakin mencekam.

”Kini saatnya Kau pulang ke neraka…”

Pistol dipegangnya lebih erta hingga otot lengannya seketika membentuk seperti dua buah bukit kecil yang padat. Dibidiknya sebuah titik diantara dua alis yang mengkerut penuh takut seperti melihat pintu Jahanam.

”Jangan!”

Lagi. Dan lagi. Setengah berteriak sang Lelaki itu memuncahkan kengeriannya.

”jangan bunuh aku..!”

”Aku tak bohong! Aku tak bohong!” Teriakan-teriakan setengah menangis berhamburan dari mulutnya

”Dari mana uang sebanyak itu! Aku tak punya!” Kali ini sang lelaki itu benar-benar sudah menangis berurai air mata berpadu teriakan serak yang tertahan.

”Ampun! Ampuni salahku Anak Muda…Ampuuuuni!” lolongannya dimata Musa tak ubahnya seekor anjing yang kesakitan.

Ditengah hutan jati yang hening, suara itu begitu nyaring terdengar. Memantulkan gelombang ke setiap sudut ruang yang senyap. Pohon-pohon tinggi meranggas mengesankan keangkuhan yang tak ingin dikalahkan. Sunyi adalah bahasa alami yang mistis.

Dalam jarak kurang dari sepuluh centi Pistol masih membidik sebuah titik diantara dua mata yang berurai kengerian. Tak ada nyali bagi lelaki itu untuk menatap ujung pistol yang gelap. Baginya pemandangan itu seperti sebuah lubang hitam tempat segala peristiwa berakhir.

”Daripada melolong seperti anjing, Jika Kau punya Tuhan, sebutlah Namanya!” Kali ini Musa berujar setengah bergetar.

”Ampuuun…Ampuni Aku! Apa salahku…” suara melolong dari ujung keputusasaan seperti memohon keajaiban.

Lelaki itu menangis untuk kesekian kalinya. Air matanya berderai-derai layaknya air bah menuruni bukit yang gundul. Sungguh pemandangan yang ironis. Sebuah pin warna emas masih menempel dikerah bajunya. Pin replika sebuah burung yang sedang membentangkan kedua sayapnya, sangat jumawa. Selembar dasi dari kain yang sangat halus menggantung tak karuan didadanya. Dasi yang lebar dengan warna cerah kuning keemasan berpadu hitam berkilauan. Lelaki itu pasti telah menukarnya dengan harga satu ton jagung. Sayang kini ternoda dengan tetesan darah disana sini.

”Mintalah Ampunan kepada Tuhanmu untuk terakhir kali. Dosamu begitu telanjang dimata dunia” Kali ini Musa mengucapkan kalimatnya dengan getar yang berat.

Diam-diam dalam wajahnya yang dingin Musa merasakan kengerian yang sangat. Jika ini benar-benar harus terjadi, inilah kali pertama dia menjadi perantara malaikat maut. Simulasi dan latihan-latihan yang sering dia peragakan tak pernah memberinya tekanan yang demikian besar. Situasi ini seperti telah menyeretnya sampai diujung jurang. Tak ada pilihan dia harus tetap bersikap. Meskipun telah memperhitungkan semuanya, namun pengalaman ini benar-benar diluar imajinasinya. Sensasi yang demikian aneh. Bayang bayang beterbangan melintasi pikirannya yang riuh. Gelap terang berkelebat ibarat frame film yang berkejaran kian cepat. Hitam dan putih.

Musa menarik napas panjang dengan pelan dan dalam. Dia menutup matanya. Membayangkan suasana surgawi, saat anak-anak kecil berlarian mengitari taman yang indah penuh suka cita dengan riuh tawa. Disamping mereka ibu-ibu tersenyum penuh kebahagiaan, melambai-lambaikan tangan memberikan semangat untuk sang buah hati untuk terus bergerak mereguk nikmat karunia Tuhan. Musa mencium wangi firdaus.

”Kau tau semua ini bukan untukku…” dengan tatapan yang makin beku Musa masih membidik sasaran. Dimatanya tergeletak seeokor babi gemuk penuh lemak. Babi yang telah merusak ladang petani yang dipupuk oleh derita dan air mata. Babi-babi tengik ini telah merampasnya berulang-ulang, menyisakan derita dalam lukisan yang demikian kelam. Lukisan gelap yang tak mampu lagi diubah dengan ratusan teori. Gelap yang tergores dari arang neraka.

”Aku harus melakukannnya. Seseorang harus bertindak”

Tepat dalam tarikan napas ketiga, sambil bergumam pelan tak terdengar Musa menarik pelatuk.

Dari pucuk-pucuk ranting pohon jati seribu burung seolah terusir paksa. Beterbangan nyaris bersamaan.

Laskar Pelangi

Posted by: sufimatre on: April 2, 2008

Untuk seorang yang mengaku penulis amatir (saat Laskar Pelangi diterbitkan), saya angkat dua jempol saya untuk sang penulis. Banyak alasan tapi hanya beberapa yang saya kira bisa dijadikan kelebihan yang tidak/jarang dipunyai penulis lainnya. Keunggulan Andreas adalah kemampuannya membuat kalimat-kalimat yang khas dan terasa sekali sangat melayu. Bahasa Melayu bukanlah bahasa Ibu buat saya yang orang Sunda, tetapi saya sangat menikmati diksi dan aura Melayu yang sangat kuat seperti seolah-olah kita sedang membaca sebuah novel klasik indonesia. Keunggulan kedua, sang penulis (entah bagaimana caranya) mampu mengalirkan emosi yang demikian kuat melalui kalimat-kalimatnya yang cantik dan bernas, sangat cerdas. Kelebihan ketiga, sang penulis berhasil keluar dari frame menggurui (meskipun pada beberapa bagian tidak selalu berhasil)

Jikapun ada yang kurang, lebih kepada kesalahan akibat inkonsistensi. Jika novel ini dikerjakan dalam bingkai realis seharusnya cerita-cerita yang hiperbolik tidak dimasukan. Maksud saya, tidak seharusnya seorang lintang (seorang anak SMP) digambarkan sedemikian cerdas sehingga mampu menjelaskan dengan kalimat sendiri paradoks teori relativitas, padahal kita tahu lintang sekolah disebuah pelosok dengan akses ilmu dan guru (hanya 2 orang) yang terbatas. Jenius sih boleh tapi apa artinya jenius jika tak ada sumbernya? hal yang sama juga terjadi pada saat penulis menggambarkan sosok Mahar dan Flo yang mistis..untuk bacaan dewasa hal itu terlalu hiperbolis.

Ketika Cinta Bertasbih

Posted by: sufimatre on: April 2, 2008

Membaca novel Ketika Cinta Bertasbih (KCB) setebal itu rasa-rasanya seperti dipaksa mengikuti upacara bendera Senin Pagi. Membosankan sekaligus menggelikan. Kelemahan paling mencolok adalah sang penulis kurang mempunyai keterampilan melukis dengan kata-kata. Kata-kata mengalir begitu saja hampir tidak ada bedanya dengan gaya seorang anak abg membuat sebuah buku harian. Kelemahan kedua kurangnya eksplorasi tokoh, plot yang monoton, dan pada beberapa bagian terjadi pembajakan logika. Bagi saya sungguh tidak logis seorang Eliana yang digambarkan gadis Metropolis, Cerdas, Berwawasan sangat luas (digambarkan berdebat dengan Ketua Liga Arab di Televisi) begitu naif dengan menawarkan hadiah ciuman untuk seorang tukang tempe yang jago masak yang telah membantunya dalam sebuah urusan. Lebih parah lagi, Karakter Eliana si gadis cerdas berwawasan luas ini tidak pernah tergambarkan sedikitpun dalam dialog-dialog yang mengalir seperti halnya kita sedang menguping anak-anak abg umunya yang sedang ngobrol diangkutan kota. Tidak ada dialog-dialog cerdas dan bernas. Semua tokoh penting (Azzam, Eliana, Furqon) tampak sangat bodoh dan kenak-kanakan ketika sedang berdialog. Kelemahan ketiga, dengan minim konflik seharusnya novel itu bisa dibuat lebih ringkas, mungkin tidak sampai sepertiganya tapi benar-benar dikerjakan dengan lebih detail. Atau memang sengaja dibuat tebal hanya untuk sekedar mencari alasan supaya terjual lebih mahal?