Posted by: sufimatre on: April 14, 2008
Bukannya tidak menghargai kerja keras Kapolda Jabar, tapi kalau punya anak buah bego, jadi kasian Pak Susno.
Hari ini, tadi pagi, saya telp ke Polwiltabes dengan keperluan nanya tarif resmi perpanjangan SIM B1. Si Bapak diseberang Telp menganjurkan saya untuk langsung menuju Mobil SIM yang lagi mangkal di Ciwalk. Dengan pertimbangan lebih dekat, saya langsung meluncur ke TKP. Di Ciwalk, orang berjejal seperti mau antre sembako. Seorang petugas duduk dikursi membagikan formulir. Mengingat takut mengganggu orang yang antri duluan saya tidak berani menyela untuk bertanya. Saya lebih memilih membaca poster yang terpampang di body mobil. Tak ada tarif yang tertulis, tak ada petugas cadangan, dengan samar-samar karena kaca mobil gelap saya melihat seorang ibu-ibu di dalam, entah lagi ngerjain apa. saya coba hubungi nomor telp bagian informasi yang tertulis diposter itu. Orang diseberang telp menganjurkan saya langsung datang ke Polwil? Apa gak gila tuh? bukannya tadi saya disuruh datang ke mobil SIM? alasannya katanya untuk sim B1 hanya bisa dilayani di Polwil. Karena keperluan saya hanya untuk mengetahui tarif, saya minta aja no telp Polwiltabes Bandung bagian SIM dan saya diberikan sebuah nomor. Coba tebak jawaban apa yang saya terima dari Polwiltabes bagian SIM itu? dengan enteng seorang ibu-ibu menjawab tidak tahu! alasannya orang bagian SIM-nya sedang tidak ada ditempat. Padahal itu sudah jam 09.30 WIB. Ketika saya jelaskan maksud saya ingin tahu tarif resmi perpanjangan SIM B1, si Ibu memberikan saya no telp yang lain. Karena saya benar-benar perlu, saya coba telp ke nomor yang diberikan si Ibu (no Flexy). Menurut orang yang saya hubungi di no terakhir ini, tarif SIM udah murah, tapi saat saya tanya pastinya berapa, dia jawab sekitar 300rb-an. Karena ingin kepastian saya pancing dengan pertanyaan bagaimana kalau ternyata lebih besar dari itu? dengan tidak kalah entengnya menganjurkan saya bawa uang lebih banyak!
Saya terhenyak. Betul juga ya, kenapa saya jadi bego begini…tapi kira-kira perlu bawa duit berapa ya? ada yang tahu?
Tapi, bukankah kesatuan yang berada dibawah Polwiltabes, Polres Bandung Barat sudah mendapatkan sertifikasi ISO untuk layanan publik? Masa ditanya tarif SIM aja susahnya minta ampun! Dapat sertifikasinya dari lembaga mana sih?
Posted by: sufimatre on: April 9, 2008

Saya ada info bagus dari ilmuwebsite.com yang ditulis oleh Anggi Orochimaru. Selamat menikmati…
Selamat siang semuanya, kali ini saya akan coba menunjukkan suatu kombinasi yang efektif, efisien, sempurna dan gratis…
Tutorial ini merupakan rangkuman dan gabungan dari dua tutorial sebelum nya, yaitu domain gratis dan hosting gratis…
Dari hasil riset saya selama 3 hari mengenai perpaduan domain gratis dan hositng gratis, saya menemukan titik temu yang sempurna.
Pertama target riset saya lakukan terhadap dua penyedia domain redirection gratis yaitu uni.cc dan co.cc, setelah saya teliti ternyata mereka berdua menyediakan “modify DNS”, ya… “modify DNS” adalah fasilitas untuk mengarahkan DNS domain ke hosting kita, feature ini sangat bagus mengingat penyedia free domain redirection yang lain hanya memberikan redirection biasa dan hanya sebatas cloaking…(Cloakig tidak efektif dan dibenci google)
Riset yang kedua adalah saya mengorbankan 3 free hosting, 1 blog dan 2 server berbayar, sebagai test.. hehe, mereka yaitu :
Hosting Gratis dan blog
1. blogspot.com
2. 50webs.com
3. Free Hostia (freehostia.com)
Hosting Berbayar
1. Server Indo
2. Server US
Test penggabungan co.cc dengan 50webs.com, DNS saya arahkan ke 50webs.com, pihak co.cc ok..!!, tapi setelah saya cek ternyata pihak 50webs.com memberikan “0″ addon domain (alias tidak mengizinkan “addon domain”, katanya sih harus upgrade )…. Test gagal..
Test penggabungan co.cc dengan blogspot, saya pernah mengecek settingan nya bloggger katanya bisa di tambahkan domain kita…, tapi setelah saya cek ternyata mereka hanya menerima child name server (ghs.google.com) bukan DNS…Test Gagal..
Test penggabungan co.cc dengan dua hosting berbayar ku hehehe.., Server Indo ama Server US, dan hasilnya gagal semua ini karena Server Indo Time Out jika di akses dari US atau Internasional, terus yang Server US paketnya tidak memberikan Addon Domain,..(kasusnya sama dengan 50webs.com)
test yang terakhir saya lakukan kepada uni.cc dan Free Hostia (freehostia.com), saya coba mengawinkan mereka berdua dan ternyata kawin juga bos…hehe..
saya cek ternyata Free Hostia (freehostia.com) menerima “addon domain”
Caranya:
1. Langsung saja DNS nya uni.cc arahkan ke Free Hostia (freehostia.com), NS-nya ada, lihat saja pada menu Addon Domain
2. Lalu pada cPanel Free Hostia (freehostia.com) pilih Addon Domain, masukkan domain kamu tadi, ex: ilmuwebsite.uni.cc (tanpa www)
3. Tunggu 24 jam dan Bingo…!!, serasa menggunakan Domain dan Server berbayar…

Cara ini berlaku juga dengan co.cc
Silahkan coba..Gratis..
Oh iya saya belum coba gabungan dengan DNS wordpress.com, apakah teman2 udah pernah coba?? bagi pengalamannya dengan comment di sini ya..
Posted by: sufimatre on: April 7, 2008
”Pelopor demokrasi apaan…” Dengan ketus Arbi Sanit menyindir Gus Dur ketika dimintai pendapatnya soal pemecatan Muhaimin Iskandar. Saya sih tidak kaget Arbi Sanit bilang begitu. Bang Arbi adalah salah seorang pengamat politik yang tidak pernah bisa jernih ketika dia menilai Gus Dur. Arbi Sanit dan juga banyak pengamat memang sudah membawa gen untuk tidak bisa pro Gus Dur dalam hal apapun, semacam penyakit rabun Gus Dur. Kalau tidak salah Bang Arbi berasal dari Sumatera Barat.
Tapi bukan hanya Bang Arbi dan orang-orang Sumatera Barat yang kehilangan akal sehat mengikuti sepak terjang Gus Dur. Arek-arek Suroboyo dan banyak ulama Jawa mulai kehilangan jejak dan tertatih-tatih sambil mencak-mencak mengikuti Gus Dur. Kita dan kebanyakan orang sering menganggap Gus Dur itu Sinting. Gelar yang demikian menistakan itu bukan hanya tidak pantas tapi juga sangat melukai kita sebagai sebuah Bangsa. Jika Gus Dur benar-benar sinting dalam pengertian yang sebenar-benarnya,
bukankah lebih sinting Amien Rais yang telah mendorong Gus Dur untuk menjadi Presiden? Dan itu artinya sebuah pembenaran bahwa kita lebih sinting karena telah memilih para anggota dewan yang sinting?
Dari awalnya kelahirannya Gus Dur memang diciptakan untuk berbeda. Bagi sebagian orang, terutama tipe pekerja keras dan disiplin Gus Dur adalah contoh paling valid bahwa dunia tidak berputar linear. Life is not fair begitu kata orang. Pada masa belia saat orang-orang seusianya belajar menghapal aturan-aturan fiqh yang baku ia malah asik melahap buku-buku yang oleh sebagian orang diharamkan untuk dibaca. Saat berada diluar negeri dengan ijin kuliah, waktunya malah lebih banyak dihabiskan diwarung kopi, kongkow dengan orang-orang underground musuh penguasa. Saat Sebagian ulama kerepotan membimbing umat, Gus Dur memilih menjadi komentator sepakbola dan film. Soeharto pernah disebutnya sebagai satu-satunya musuh, tapi pada saat yang sama dia menyatakan Tutut adalah calon pemimpin masa depan. Saat sebagian orang masih merinding mendengar kata ’PKI’ Gus Dur merehabilitasi orang-orang yang diduga terlibat Gestapu. Saat orang-orang Cina banyak dimusuhi, Gus Dur mengaku menjadi Bapak angkat mereka. Saat Inul dicaci maki, Gus Dur bilang goyang ngebor bukan masalah yang perlu diributkan. Dari sini bisa ditarik kesimpulan, jika anda dimusuhi orang banyak berlindunglah kepada Gus Dur.
Paradoks, kontradiksi, kejanggalan dan inkonsistensi adalah nama tengah Gus Dur dan itu mengantarkannya menjadi Presiden! Sebuah prestasi yang tidak bisa dihapus sejarah.
Kini, saat semua partai berbenah menyambut pesta demokrasi 2009, Gus Dur malah berulah dengan memecat Ketua Umum PKB. Setelah era Matori dan Alwi hal ini rupanya semakin menguatkan dugaan orang bahwa PKB adalah Gus Dur dan Gus Dur adalah PKB. Maka saya sangat tidak mengerti jika ada orang-orang yang ingin menegakan demokrasi di PKB. Dari awal kelahirannya PKB sudah cacat demokrasi. Alasannya, demokrasi tak pernah cocok dengan Gus Dur. Pertengahan 90-an saat Gus Dur mendapatkan kehormatan dengan gelar Panglima Demokrasi, hal yang sebenarnya terjadi adalah Gus Dur menunggangi demokrasi untuk sebuah agenda yang anti demokrasi. Dan hanya untuk hal ini Gus Dur sangat konsisten.
Saat Gus Dur keluar terusir dari Istana, dia memilih keluar dengan menggunakan (maaf) kolor (saya bersyukur warnanya bukan Ijo). Dia terusir dengan tidak hormat, dituduh maling! dan saya ingat betul siapa orang-orang yang demikian getol meneliti dan menginvestigasi kasus itu sehingga keluar sebuah kalimat sakti „Gus Dur patut diduga terlibat…“. Sebagian orang-orang itu sekarang masih menjadi menteri. Hartanya pasti sudah berlipat-lipat. Padahal dalam operasi bilangan, kelipatan biasa digunakan untuk perkalian akar pangkat. Sementara tabungan gaji menteri hanya bisa dipahami dengan operasi penjumlahan. Jika anda pusing, sekali-sekali tanyakan kepada KPK.
Dengan kapasitas moral yang demikian besar yang dipunyai para bandit senayan, mereka cukup meyakinkan masyarakat bahwa Gus Dur bersama tukang pijatnya berkolaborasi membobol uang negara. Jika anda ingat jumlahnya, jauh dibawah yang digondol Wijanarko. Kini, PDIP mengaku partai paling oposisi. Bahkan sebelum pemerintah sempat mengeluarkan sepatahkatapun PDIP akan segera menimpalinya „No!“. Maka sekarang lah saat yang tepat bagi SBY memuji Megawati sebagai pemimpin yang sukses, meski hanya 2 tahun memimpin.
Pemilu 1999 menempatkan Indonesia menjadi negara besar ketiga yang sukses membangun demokrasi. Konon hanya kalah oleh Amerika Serikat dan India. Indonesia mendapat pujian berbunga-bunga dari seluruh dunia sebagai bangsa besar dengan demokrasi yang cantik dan molek (karena gemuk) bahkan genit (perhatikan saja iklan pilkada di TV) namun diam-diam hal yang luar biasa sesungguhnya tengah terjadi dan kita nyaris menganggapnya tidak ada hubungannya dengan Demokrasi.
Setelah era Orde Lama tahun 1965, tak pernah ada pemandangan rakyat antri semua jenis kebutuhan dasar. Jerigen berjejer hampir satu kilometer! Harga seliter minyak tanah lebih mahal dari Pertamax! Inilah era pemecahan rekor besar-besaran! Lihatlah faktanya seorang mentri pribumi (sebelumnya tak pernah ada pribumi) menjadi orang terkaya di Indonesia saat menjadi menteri koordinator kesejahteraan rakyat. Dia berhasil menjalankan tugasnya dengan sangat sempurna! Semua jenis komoditas naik kepuncak tertinggi hampir bersamaan. Angka kemiskinan dan pengangguran terus diperdebatkan namun orang menjadi gila dan bunuh diri hampir terjadi setiap hari. Subsidi energi, bunga hutang, dan belanja aparat Negara menghabiskan 70% APBN. Semua ini benar-benar terjadi dalam bingkai Demokrasi yang cantik dan seksi!
Bagi saya yang dibesarkan dengan romantisme Nahdlatul Oelama, Gus Dur adalah manifestasi ideal dari pemimpin di era krisis. Pemimpin yang berani keluar dari kungkungan sistem dan berani mengambil resiko. Tak peduli sistem itu nyaris di kultuskan sebagian besar orang di Dunia, What the hell about democracy, jika demokrasi hanya menghantarkan rakyat keujung neraka. Begitu kira-kira.
Orang normal diantara orang gila, tentu akan dianggap gila!
Atau mungkin saya yang sudah gila?
Posted by: sufimatre on: April 2, 2008
Untuk seorang yang mengaku penulis amatir (saat Laskar Pelangi diterbitkan), saya angkat dua jempol saya untuk sang penulis. Banyak alasan tapi hanya beberapa yang saya kira bisa dijadikan kelebihan yang tidak/jarang dipunyai penulis lainnya. Keunggulan Andreas adalah kemampuannya membuat kalimat-kalimat yang khas dan terasa sekali sangat melayu. Bahasa Melayu bukanlah bahasa Ibu buat saya yang orang Sunda, tetapi saya sangat menikmati diksi dan aura Melayu yang sangat kuat seperti seolah-olah kita sedang membaca sebuah novel klasik indonesia. Keunggulan kedua, sang penulis (entah bagaimana caranya) mampu mengalirkan emosi yang demikian kuat melalui kalimat-kalimatnya yang cantik dan bernas, sangat cerdas. Kelebihan ketiga, sang penulis berhasil keluar dari frame menggurui (meskipun pada beberapa bagian tidak selalu berhasil)
Jikapun ada yang kurang, lebih kepada kesalahan akibat inkonsistensi. Jika novel ini dikerjakan dalam bingkai realis seharusnya cerita-cerita yang hiperbolik tidak dimasukan. Maksud saya, tidak seharusnya seorang lintang (seorang anak SMP) digambarkan sedemikian cerdas sehingga mampu menjelaskan dengan kalimat sendiri paradoks teori relativitas, padahal kita tahu lintang sekolah disebuah pelosok dengan akses ilmu dan guru (hanya 2 orang) yang terbatas. Jenius sih boleh tapi apa artinya jenius jika tak ada sumbernya? hal yang sama juga terjadi pada saat penulis menggambarkan sosok Mahar dan Flo yang mistis..untuk bacaan dewasa hal itu terlalu hiperbolis.
Posted by: sufimatre on: April 2, 2008
Membaca novel Ketika Cinta Bertasbih (KCB) setebal itu rasa-rasanya seperti dipaksa mengikuti upacara bendera Senin Pagi. Membosankan sekaligus menggelikan. Kelemahan paling mencolok adalah sang penulis kurang mempunyai keterampilan melukis dengan kata-kata. Kata-kata mengalir begitu saja hampir tidak ada bedanya dengan gaya seorang anak abg membuat sebuah buku harian. Kelemahan kedua kurangnya eksplorasi tokoh, plot yang monoton, dan pada beberapa bagian terjadi pembajakan logika. Bagi saya sungguh tidak logis seorang Eliana yang digambarkan gadis Metropolis, Cerdas, Berwawasan sangat luas (digambarkan berdebat dengan Ketua Liga Arab di Televisi) begitu naif dengan menawarkan hadiah ciuman untuk seorang tukang tempe yang jago masak yang telah membantunya dalam sebuah urusan. Lebih parah lagi, Karakter Eliana si gadis cerdas berwawasan luas ini tidak pernah tergambarkan sedikitpun dalam dialog-dialog yang mengalir seperti halnya kita sedang menguping anak-anak abg umunya yang sedang ngobrol diangkutan kota. Tidak ada dialog-dialog cerdas dan bernas. Semua tokoh penting (Azzam, Eliana, Furqon) tampak sangat bodoh dan kenak-kanakan ketika sedang berdialog. Kelemahan ketiga, dengan minim konflik seharusnya novel itu bisa dibuat lebih ringkas, mungkin tidak sampai sepertiganya tapi benar-benar dikerjakan dengan lebih detail. Atau memang sengaja dibuat tebal hanya untuk sekedar mencari alasan supaya terjual lebih mahal?