Bloger Amatir

Emha Sang Guru

Posted by: sufimatre on: Januari 14, 2009

buku-emha

Setelah sekian lama abstain mengisi tulisan karena tak tahu apa yang ingin ditulis… setelah sekian tema mampir ingin ditampilkan, mulai dari Maryamah Karpov, agresi Israel, sampai Candoleng-doleng…akhirnya pilihanku jatuh ingin mengabarkan buku ini.

Membaca buku Emha terakhir kalinya mungkin sekitar tahun 2000-an, selepas itu dan seiring menghilangnya Emha dari ‘dunia’ tak pernah lagi saya membaca apapun hasil karya Emha. Emha lenyap ditelan kesibukanku mencari dunia. Sekedar selenting nama Emha terdengar atau terbaca di media masa, pikiranku segera mengalihkannya seraya membuat asumsi dan pembenaran bahwa Emha seperti manusia lain pada umumnya, adalah manusia yang punya hajat dan kebutuhan dengan dunia, jadi janganlah terlalu melebih-lebihkannya… toch sekarang dia sudah menikahi artis, bahkan bukan tidak mungkin Emha sekarang juga diam-diam sedang menunggu pelamar untuk maju dalam pilkada.

Maka ketika melihat di rak buku kawan ada buku ini, awalnya berat sekali untuk memilihnya untuk jadi bahan bacaan mengisi waktu luang, hanya karena anjuran kawan saja akhirnya saya memilihnya untuk dibaca. Dan terus terang, judul dan tulisan pertamalah yang membuat saya memutuskan membawa buku ini pulang.

Setidaknya dari tulisan-tulisan dibuku ini saya merasa penilaian dan asumsi2 saya tentang belia (lihat! sekarang saya mengganti dia dengan belia) banyak kelirunya. Emha masih seperti dulu. Riang, suka menari dengan kata-kata dan yang terpentin tulisannya jujur.

Emha masih seperti air, mengalir mengisi tiap pori-pori kehidupan. Beliau bisa membentuk wujud apapun sesuai dengan bisikan nuraninya. Beliau bisa menjadi pembela rakyat terdepan, tapi bisa juga menjadi pembela penguasa yang gigih. Bisa menjadi Kiai, tapi bisa juga menjadi anti kiai. Emha tak bisa diarahkan, dia hanya akan mengarahkan dirinya sendiri.

Menikmati buku ini, saya belajar banyak… terutama belajar untuk jujur mengakui kekurangan diri.