Posted by: sufimatre on: April 26, 2008
Salah satu buku yang paling berkesan yang pernah saya baca adalah sebuah buku tebal berwarna hijau tua dengan judul cukup singkat ‘ISLAMOLOGI’. Sebuah buku terjemah dari seorang ulama Pakistan kontemporer, Maulana Muhammad Ali.
Yang paling membuat saya terkesan adalah penyajiannya yang lebih mirip sebuah ensiklopedi Islam daripada sekedar buku. Materi tulisan yang detail, saling bertaut, dilengkapi referensi yang luar biasa lengkap. Untuk seorang awam, buku itu kaya akan gizi, lengkap dan mudah untuk dinikmati.
Hal yang paling membuatnya berbeda, adalah keberanian sang penulis meletakan logika dan nalar dalam posisi yang teramat terhormat. Maka tidak heran, pada beberapa bagian ada kontroversi kecil-kecilan. Anehnya, beberapa kontroversi itu sangat berpengaruh dalam membangun pola berfikir saya sampai hari ini. Bahkan, Skripsi saya yang dianggap beberapa dosen kontroversial itu juga mendapatkan ilham darisana. Diam-diam buku itu saya simpan dalam hati sebagai bagian dari cara Tuhan mengajari saya. Pendek kata, Buku hijau tebal itu adalah Guru yang tak pernah berbicara.
Belakangan saya baru menyadari bahwa buku itu adalah buku karya seorang penganut dan aktivis Ahmadiyah di Eropa. Ramainya gonjang-ganjing Ahmadiyah hari ini, mengingatkan saya akan buku Hijau tua itu. Buku tebal yang cerdas itu, yang telah meninggalkan pengaruh yang teramat berarti buat saya pribadi.
Untuk sekedar menyebut contoh hal-hal yang saya anggap kontroversi itu adalah, dibuku itu dinyatakan bahwa tidak ada ‘makhluk halus pengangguran’ yang kerjanya menakut-nakuti, mirip setan-setan gentayangan dilayar kaca. Bahkan Jin (salah satu jenis makhluk halus) pun diberi definisi yang sangat berbeda dengan yang kita pelajari selama ini, atau contoh yang lain, buku ini memberi sudut pandang dan perspektif alternatif yang segar bagi kita dalam memandang dan memahami hal-hal yang selama ini sudah kita anggap mapan. Seperti makna wahyu, nabi, rasul dan semacamnya. Menariknya, sekali lagi, semua argumentasi yang dikemukakan adalah argumen yang sangat logis dan literal jauh dari kesan emosional.
Selebihnya, diluar kontroversi itu, ilmu yang tersebar dibuku itu adalah mutiara yang sayang untuk disingkirkan dan secara keseluruhan saya menganggap tidak ada hal-hal yang benar-benar menyimpang dari ajaran Islam.
Jika benar buku itu mempresentasikan Ahmadiyah seutuhnya, maka saya berani bersaksi, Ahmadiyah adalah saudara kita. Mereka adalah kaum Muslimin dan Mu’minat yang wajib kita lindungi hak-hak dan kewajibannya. Namun jika kemudian ternyata pada kenyataanya terjadi penyimpangan tentu perlu diluruskan. Lalu bagaimana sikap kita sebaiknya sekarang?
Sebaik-baik sikap, jika mungkin, adalah tabayyun (diskusi untuk konfirmasi), sebab kita tidak punya cukup informasi, bahkan informasi yang sedikit itupun lebih banyak berasal dari isu dan gosip.
Bukankah Rasul Allah Muhammad SAW pernah berkata: perasangka itu lebih bertendensi dusta!
Saya ingin menanggapi sedikit tulisan tentang Ahmadiyah ini. Ada beberapa penyimpangan yang sangat prinsip dalam ajaran Ahmadiyah yang merupakan masalah Aqidah dan ini tidak bisa ditolerir :
1. Ahmadiyah memiliki kitab suci sendiri yang mereka namakan Tazkirah. Kitab ini ditulis oleh pendiri Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad. Kitab ini merupakan pengganti Al Qur’an, mereka selalu merujuk ke Tazkirah walaupun hal tersebut bertentangan dengan Al Qur’an.
2. Mereka meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi yang terakhir. Padahal dalam Al Qur’an dan hadits Rasulullah SAW sangat jelas disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah penutup dari nabi-nabi, tidak ada lagi nabi sesudah Nabi Muhammad SAW. Kata “Khatamunnabii” (penutup para nabi) dalam Al Qur’an, mereka mengartikan “cincin nabi” bukan “penutup para nabi”.
3. Mereka memiliki masjid sendiri dan tidak mau bergabung dengan kaum muslimin yang lain dalam beribadah. Markas besar Ahmadiyah terletak di London, Inggris, yang notabene merupakan negara kafir, bukan negara Islam.
Olehnya itu, kepada saudaraku yang mengaku muslim sejati, jangan pernah terpedaya dengan ajaran Ahmadiyah, karena pemahaman mereka sangat jauh dari ajaran Islam yang murni. Ingat saudaraku, masalah Aqidah adalah masalah yang sangat prinsip dalam Islam.
Buat Sufimatre….
saya kira anda seorang islam Liberal….
Ahmadiyah sudah jelas menyimpang dari Islam….Itu bisa anda kaji dari kitab sucinya Tadzkirah….disitu disebutkan bahwa kitab ini (tadkirah) diturun Allah kepada Mirza sebagai Wahyu Muqoddas …
Pesan saya buat anda…belajarlah Islam dari sumber yang benar….
Dalam islam…Aqidah itu no.1, Nabi Muhammad sudah jelas nabi terakhir..
Agustus 30, 2008 pada 6:14 pm
mas kalo boleh tahu dimana ya saya bisa mendapatkan buku tentang Islamologi itu, terima kasih