Posted by: sufimatre on: April 16, 2008
Akhirnya selesai juga kitab Ayat-Ayat Cinta saya baca. Tentu saja sebagai pembaca saya merasa berhak untuk memberikan penilaian pribadi atas novel fenomenal ini.
Penghargaan tertinggi saya adalah untuk kemampuan penulis menyampaikan pesan-pesan dan nilai-nilai keIslaman kedalam sebuah novel bergaya pop. Penulis (Kang Abik) terlihat begitu konsisten dengan misinya. Hal ini terbukti semua novelnya mengambil tema-tema yang hampir seragam. Meskipun demikian Ayat-Ayat Cinta (AAC) masih jauh lebih baik dibanding novel-novelnya yang lain, novel inilah dalam pandangan saya bisa dikatakan sebagai masterpiece nya Kang Abik.
Kekuatan AAC yang lain adalah pengambilan setting di Mesir. Penulis yang memang pernah tinggal di Mesir cukup lama, mampu menghadirkan gambaran sebuah sudut kota dengan cukup detail, lengkap dengan budaya dan keragaman orang-orangnya. Nilai jual dari setting dinegeri orang adalah pembaca seolah-olah dibawa berkunjung ketempat yang benar-benar baru, melintasi imajinasi kesehariaan pembacanya. Dengan bertaburan kata-kata dan istilah-istilah asing otak kita secara naluriah lebih peka dan perhatian. Tentu saja keahlian sang penulis pun sangat berperan dalam menjaga tingkat kejenuhan pembaca.
Cinta segi tiga tentu selalu memberi peluang kepada penulis untuk membuka pintu konflik selebar-lebarnya, apalagi di AAC cinta itu bersegi lima. Konflik yang diangkat dan plot yang digunakan cukup membuat siapapun kesulitan untuk menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Inilah barangkali yang membuat gemas sebagian pembacanya, sehingga ada yang menyatakan sulit untuk berhenti membaca sebelum tamat.
Perbedaan paling mencolok AAC dari novel sejenis lainnya dan menjadi nilai lebih adalah secara keseluruhan novel ini terasa lebih dewasa, namun begitu para remaja pun tak akan kesulitan untuk dapat menikmatinya.
Kekurangan yang paling mengganggu saya adalah masih banyak ditemukan baik dalam kalimat langsung maupun dalam deskriptif penjejalan nilai-nilai, norma-norma normatif layaknya seorang guru sekolah didepan kelas. Bagi sebagian orang yang alergi dengan model bertutur seperti ini akan membuat mereka lari.
Kekurangan kedua, masih ada hal-hal yang tidak logis dan sayangnya hal yang kurang logis ini terjadi justru pada puncak konflik, saat Fahri harus dipenjara dan berhadapan dengan pengadilan. Memasang Noura dengan peran antagonis dan membuat tuduhan palsu telah memerkosanya, adalah tindakan yang memerkosa logika pembaca. Jika tuduhan itu dibawah tekanan seorang yang aktif dibidang intelijen, tuduhannya menjadi terlalu sederhana dan mudah dipatahkan. Tanpa Maria (yang digambarkan berlebihan, tiba-tiba sehat setelah mendengar seseorang berbicara) pun Fahri dapat lolos dengan DNA, tak ada alasan bagi pengadilan menolak tes DNA.
kelemahan ketiga, dengan keluasan ilmu yang dipunyai penulis, saya yakin Kang Abik seharusnya mampu membuat semacam episode yang berhasil merukunkan dua istri yang dalam kehidupan nyata nyaris mustahil. Sayang, seperti banyak diungkap banyak kalangan novel ini jadi berkesan kurang berani, mematikan seseorang yang seharusnya bisa diekploitasi untuk sebuah gambaran ideal poligami.
Mei 22, 2009 pada 1:17 pm
kesempurnaan hanyalah milik Allah Swt..