Posted by: sufimatre | April 10, 2008

Pilkada Jabar 2008 : Jendela Pemilu dan Pilpres 2009

Pilkada Jabar

Konon Pilkada Jabar mendapat perhatian dari masyarakat (media) barat. Mungkin karena Jawa Barat bisa dianggap representasi Indonesia dalam skala yang diperkecil. Meskipun memiliki jumlah penduduk dan luas wilayah yang hampir sama namun kompleksitas dan keragaman yang dimiliki Jawa Barat rada lain misalnya ketika dibandingkan dengan Jawa Timur. Perbedaan ini terutama sangat terlihat dari peta politik calon pemilih. Di Jawa Barat tidak ada partai yang benar-benar dominan seperti halnya PKB di Jawa Timur dan Golkar di Sulawesi Selatan.

Jika Melihat konfigurasi politik dari sebaran kursi di DPRD sebaran itu terlihat lebih merata dan lebih seimbang, konfigurasi ini lebih mendekati pola sebaran di DPR. Dari sinilah mungkin orang melihat Pilkada Jabar bisa menjadi prototipe dari gambaran suara Pemilu 2009 bukan hanya untuk melihat siapa mengalahkan siapa tapi lebih kepada mencari pendekatan politik paling mungkin untuk mempersiapkan strategi paling jitu dalam rangka meraih kursi diparlemen dan mengantarkan jagoannya merebut RI-1.

Golkar dan PDIP sebagai dua partai dengan suara terbanyak di DPRD Jabar saat ini akan menjadi dua lokomotif utama yang akan bersaing menempatkan jagoannya masing-masing. Siapapun yang berhasil memenangkan Pilkada Jabar pasti akan memberikan implikasi langsung terhadap gaya dan pendekatan politik dalam menghadapi Pemilu 2009.

Jika pasangan Dhani Setiawan-Iwan Sulanjana (Da’i) berhasil memenangkan Pemilu bisa dipastikan duet SBY-JK akan diperpanjang untuk masa lima tahun kedepan. Kemenangan Da’i jika benar-benar terjadi adalah kemenangan SBY-JK. Da’i adalah cetak biru kekuatan SBY-JK dari sisi manapun kita melihatnya. Da’i bukan hanya bisa dilihat sebagai koalisi Golkar-PD tapi juga Sipil-Militer dan pemegang kekuasaan (incumbent). Namun sebaliknya jika Da’i kalah Golkar bisa melihat ada alasan untuk meninggalkan Demokrat dengan mengusung jagoannya sendiri.

Pasangan Agum Gumelar dan Nu’man Abdul Hakim (Aman) yang merupakan koalisi gemuk multi partai bisa menjadi alat untuk mengukur sejauh mana mesin politik bisa memainkan perannya. Kekalahan Aman pada Pilkada Jabar hanya akan memberikan lampu kuning kepada Megawati dan PDIP untuk lebih berpikir keras mencari strategi agar jangan sampai kalah untuk kedua kalinya di 2009.

Adapun pasangan Ahmad Heriawan dan Dede Yusuf (Hade) dari awal masa penjaringan calon saya tidak melihat ada target maksimal dari pasangan ketiga yang merupakan koalisi bonsai PAN-PKS. PKS dan PAN yang berbasis sama di wilayah perkotaan dan belum mampu menjamah pelosok daerah, jelas terlihat memaksakan diri dan berharap keberuntungan yang nyaris mustahil. Kalau pun ada target, saya melihatnya hanya sebagai ajang pemanasan untuk mengukur potensi suara mereka di Pemilu 2009.

Konfigurasi inilah kira-kira yang akan dijalankan di Pemilu dan Pilpres 2009. Jika kecenderungan ini menguat kesimpulannya adalah masyarakat Indonesia tidak akan benar-benar mempunyai presiden baru di 2009. Jika bukan presiden yang ditetapkan sebagai presiden lagi alternatifnya adalah wakilnya yang naik menjadi presiden, atau mantan presiden menjadi presiden lagi.

Ayo pilih yang mana?

Tanggapan

bagi PKS kemenangan bukan merupakan suatu tujuan yang hendak di capai, tapi merupakan barometer perjuangan ’sang militan dakwah’ dalam mengubah tataran demokrasi di Indonesia khususnya jawa barat. berupaya untuk mematangkan demokrasi ada lewat misi “bersih, sejahtera,adil”. PKS tampil beda tidak mengubar uang sebalik membuka saku celana sendiri untuk perjuangan dakwah, inilah partai politik yang dtakuti oleh partai besar (golkar, PDI dan sekutunya). bekerja demi dakwah.

allahuakbar,,,,kemenangan atas pks dan pan

ass salam kenal,,, kemenangan HADE merupakan tonggak dari supremansi hukum dalam menindak para koruptor,, silahkan baca posting saya HADE menang, Danny masuk Bui silahkan klik Disini

Leave a response

Your response:

Kategori