Bloger Amatir

Laskar Pelangi

Posted by: sufimatre on: April 2, 2008

Untuk seorang yang mengaku penulis amatir (saat Laskar Pelangi diterbitkan), saya angkat dua jempol saya untuk sang penulis. Banyak alasan tapi hanya beberapa yang saya kira bisa dijadikan kelebihan yang tidak/jarang dipunyai penulis lainnya. Keunggulan Andreas adalah kemampuannya membuat kalimat-kalimat yang khas dan terasa sekali sangat melayu. Bahasa Melayu bukanlah bahasa Ibu buat saya yang orang Sunda, tetapi saya sangat menikmati diksi dan aura Melayu yang sangat kuat seperti seolah-olah kita sedang membaca sebuah novel klasik indonesia. Keunggulan kedua, sang penulis (entah bagaimana caranya) mampu mengalirkan emosi yang demikian kuat melalui kalimat-kalimatnya yang cantik dan bernas, sangat cerdas. Kelebihan ketiga, sang penulis berhasil keluar dari frame menggurui (meskipun pada beberapa bagian tidak selalu berhasil)

Jikapun ada yang kurang, lebih kepada kesalahan akibat inkonsistensi. Jika novel ini dikerjakan dalam bingkai realis seharusnya cerita-cerita yang hiperbolik tidak dimasukan. Maksud saya, tidak seharusnya seorang lintang (seorang anak SMP) digambarkan sedemikian cerdas sehingga mampu menjelaskan dengan kalimat sendiri paradoks teori relativitas, padahal kita tahu lintang sekolah disebuah pelosok dengan akses ilmu dan guru (hanya 2 orang) yang terbatas. Jenius sih boleh tapi apa artinya jenius jika tak ada sumbernya? hal yang sama juga terjadi pada saat penulis menggambarkan sosok Mahar dan Flo yang mistis..untuk bacaan dewasa hal itu terlalu hiperbolis.

Tinggalkan Balasan