Posted by: sufimatre | Mei 29, 2008

Republik Mimpi

Setelah Blue Energi masuk istana, kini giliran pengusaha yang dikabarkan mengantri BLT versi Achmad Zaini. Entah apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan republik ini.

Mungkinkah sedang terjadi kegilaan masal?

Posted by: sufimatre | Mei 27, 2008

Internet Murah…

Sambil menyelam…ngintip cewe renang! begitulah kira-kira kejadian kemarin pagi. Datang ke Telkomsel Dago dengan niat awal mau tanya syarat aktifasi internet HSDPA 3,6Mbps. Telkomsel langsung memberikan dua kejutan. Kejutan pertama, makan (bisa pilih bakso atau batagor, tapi saya pilih dua2nya hehe dan minum (soft drink) gratis! mereka bilang lagi ulang tahun… kejutan kedua, Telkomsel pada hari kemarin itu juga baru meluncurkan paket akses data internet unlimitted bahkan untuk HSDPA 3,6Mbps! sebuah pukulan telak untuk Indosat IM2 yang sehari sebelumnya saya survey masih bertahan di quota volume based 1.2 G untuk kecepatan 3,6Mbps. Untuk paket ini, Telkomsel buka harga di 400rb/bulan.

Eiiit tunggu, jangan seneng dulu, ternyata unlimittednya telkomsel masih pake embel-embel yaitu batas kecepatan akses data 3,6Mbps diberikan hanya sampai batas volume based 3 Giga, selebihnya bandwitch diturunkan ke 512 Kbps tanpa dikenakan charge untuk kelebihan quota, artinya bahasa iklan Telkomsel sudah jujur tapi kurang all out! Untuk sebuah terobosan awal, langkah itu cukup fair dan berani apabila kita membandingkan dengan dua operator lainnya Indosat dan XL yang belum mengeluarkan jurus yang revolusioner. Sampe hari ini Indosat masih bersikukuh dengan IM2 yang Volume based, dan XL yang lebih memilih menjadi pengecer lewat pihak ketiga (Quasar, Centrin dll)

Menariknya lagi, TelkomFlash mengeluarkan paket unlimitted ekonomis seharga 125 rb/bulan. Dengan paket ini kita diberikan bandwitch up to 256kbps sampai pemakaian 3 giga setelah itu diturunkan ke up to 64Kbps sampe unlimitted. Kali ini saya benar-benar surprise dengan innovasi Telkomsel! Saya sampe bertanya-tanya, bagaimana dengan nasib speedy yang masih terlilit kabel?

Kesimpulan, saya sudah tidak sabar menunggu pembalasan dari ‘raja banting harga’ XL dan Indosat.

dan pertarungan pun dimulai, Ting!

Posted by: sufimatre | Mei 25, 2008

Mengintip APBN 2008

Jika anda punya waktu sangat luang silakan kunjungan http://www.anggaran.depkeu.go.id disana tertulis lengkap APBN 2008 beserta lampirannya tak kurang dari 600 halaman file pdf.

sayang saya tak punya cukup waktu, tapi dari sekilas pengamatan saja sudah tercium ketidakwajaran, sekedar contoh, sektor pertanian yang diwakili Departemen Pertanian yang notabene merupakan sektor yang langsung bersentuhan dengan hampir setengah populasi masyarakat dan sangat berpotensi menjadi motor pengentasan kemiskinan hanya mendapat anggaran 9,1 Trilyun. Itu hanya 1/4 dari anggaran Departemen Pertahanan yang mencapai 36,3 Trilyun! bahkan masih kalah jauh dengan Departemen Agama yang memakan anggaran 15 Trilyun atau sedikit diatas Mahkamah Agung yang menghabiskan anggaran 6,4 Trilyun. Padahal orang bodoh juga tahu, musuh paling nyata itu bukan serangan dari negara luar, tapi musuh negara itu saat ini bernama kemiskinan dan kelaparan!

MMMMGGGGGhhhhhhhhh, Gemesssss!!!!

Posted by: sufimatre | April 26, 2008

Ahmadiyah, saudara atau musuh?

Salah satu buku yang paling berkesan yang pernah saya baca adalah sebuah buku tebal berwarna hijau tua dengan judul cukup singkat ‘ISLAMOLOGI’. Sebuah buku terjemah dari seorang ulama Pakistan kontemporer, Maulana Muhammad Ali.

Yang paling membuat saya terkesan adalah penyajiannya yang lebih mirip sebuah ensiklopedi Islam daripada sekedar buku. Materi tulisan yang detail, saling bertaut, dilengkapi referensi yang luar biasa lengkap. Untuk seorang awam, buku itu kaya akan gizi, lengkap dan mudah untuk dinikmati.

Hal yang paling membuatnya berbeda, adalah keberanian sang penulis meletakan logika dan nalar dalam posisi yang teramat terhormat. Maka tidak heran, pada beberapa bagian ada kontroversi kecil-kecilan. Anehnya, beberapa kontroversi itu sangat berpengaruh dalam membangun pola berfikir saya sampai hari ini. Bahkan, Skripsi saya yang dianggap beberapa dosen kontroversial itu juga mendapatkan ilham darisana.  Diam-diam buku itu saya simpan dalam hati sebagai bagian dari cara Tuhan mengajari saya. Pendek kata, Buku hijau tebal itu adalah Guru yang tak pernah berbicara.

Belakangan saya baru menyadari bahwa buku itu adalah buku karya seorang penganut dan aktivis Ahmadiyah di Eropa. Ramainya gonjang-ganjing Ahmadiyah hari ini, mengingatkan saya akan buku Hijau tua itu. Buku tebal yang cerdas itu, yang telah meninggalkan pengaruh yang teramat berarti buat saya pribadi.

Untuk sekedar menyebut contoh hal-hal yang saya anggap kontroversi itu adalah, dibuku itu dinyatakan bahwa tidak ada ‘makhluk halus pengangguran’ yang kerjanya menakut-nakuti, mirip setan-setan gentayangan dilayar kaca. Bahkan Jin (salah satu jenis makhluk halus) pun diberi definisi yang sangat berbeda dengan yang kita pelajari selama ini, atau contoh yang lain, buku ini memberi sudut pandang dan perspektif alternatif yang segar bagi kita dalam memandang dan memahami hal-hal yang selama ini sudah kita anggap mapan. Seperti makna wahyu, nabi, rasul dan semacamnya. Menariknya, sekali lagi, semua argumentasi yang dikemukakan adalah argumen yang sangat logis dan literal jauh dari kesan emosional.

Selebihnya, diluar kontroversi itu, ilmu yang tersebar dibuku itu adalah mutiara yang sayang untuk disingkirkan dan secara keseluruhan saya menganggap tidak ada hal-hal yang benar-benar menyimpang dari ajaran Islam.

Jika benar buku itu mempresentasikan Ahmadiyah seutuhnya, maka saya berani bersaksi, Ahmadiyah adalah saudara kita. Mereka adalah kaum Muslimin dan Mu’minat yang wajib kita lindungi hak-hak dan kewajibannya. Namun jika kemudian ternyata pada kenyataanya terjadi penyimpangan tentu perlu diluruskan. Lalu bagaimana sikap kita sebaiknya sekarang?

Sebaik-baik sikap, jika mungkin, adalah tabayyun (diskusi untuk konfirmasi), sebab kita tidak punya cukup informasi, bahkan informasi yang sedikit itupun lebih banyak berasal dari isu dan gosip.

Bukankah Rasul Allah Muhammad SAW pernah berkata: perasangka itu lebih bertendensi dusta!

Posted by: sufimatre | April 16, 2008

DBS, MLM berbulu Pulsa!

Dua bulan yang lalu, seorang teman dengan mata berninar-binar mempromosikan DBS. Sebuah MLM pulsa. Dia mendapat fatwa dari seseorang yang dituakannya bahwa MLM ini bisa dipastikan kehalalannya. Dalam seminggu keikutsertaannya dia sudah balik modal, katanya sudah untung malah. Waktu itu di rekeningnya sudah masuk 1,9 juta. Saya melihat bukti transfernya melalui mobile banking.

Seminggu yang lalu, dia mengabarkan jika pendapatannya dari MLM itu sudah hampir 7 juta! bahkan seorang temannya yang lain sudah mencapai 27 juta, mungkin sekarang sudah lebih dari 30 juta.

Wow hebat bener!

Resiko terburuk dari bisnis ini katanya, tak pernah rugi! Malah untung! Punya account private untuk isi ulang pulsa sendiri dan orang lain dengan harga miring. Account ini jelas harus diisi deposit terlebih dahulu jika ingin menggunakan pulsanya. Melihat price list-nya memang miring, tapi tak bisa disebut murah.  Keuntungan lainnya bergabung dengan DBS tak perlu disebutkan, itu hanya akan membuat saya dan siapapun yang menyebutkannya akan tampak lebih lucu dari biasanya.

Yang menarik, kita cukup menyetor 200rb untuk menjadi anggota. Setelah itu tinggal isi deposit, dan langsung bisa swalayan pulsa dengan harga ‘miring’ tadi, bisa jualan dan dapat keuntungan. Menarik bukan?

Lalu bagaimana ceritanya dari 200rb bisa mengalir puluhan juta?

Disini tabiat MLM aslinya muncul. Untuk bisa mengalirkan rupiah, kita dituntut untuk menarik downline sebanyak-banyaknya. Jika cukup modal, kita dapat langsung daftar untuk tujuh orang atas nama kita sendiri, untuk keberanian ini kita akan mendapat potongan 200rb. Pasang tujuh bayar enam! keren…

Mulai dari sini, ceritanya selanjutnya adalah 100% MLM!, dengan dalih dan istilah apapun DBS jelas MLM berbulu pulsa. Rekrut kawan sebanyak-banyaknya, bonus mengalir sampai jauuuuuuuh

Yang luput dari perhatian mereka, bonus itu, bonus yang berjuta-juta, yang berpuluh juta, bonus dari mana? sementara  fee kita dari transaksi jual beli pulsa hanya dihargai Rp.10 per transaksi

saya bisa dipastikan bonus berjuta-juta itu bukan bonus keuntungan jual beli pulsa. Itu adalah bonus yang disawerkan dari sekian ratus ribu atau malah sekian juta uang yang anda setorkan. Jikapun ada bonus pulsa, nilainya tak akan lebih dari 0,0001% (jadi mirip iklan) Pulsa hanyalah kedok. Selebihnya adalah money game, mengais uang dengan uang tak ada barang yang ditransaksikan. jika ini benar, artinya haram!

Tidak percaya?

Jika benar kawan saya kurang dari tiga bulan menghasilkan 7 jt, berarti dia dan sekian downline-nya harus berhasil menjual pulsa sebanyaklebih dari 700.000 kali transaksi (kita hanya mendapat fee rp. 10 per transaksi). Bayangkan bagi mereka yang berhasil meraup 30 juta, berarti dia dan tim downlinenya telah berhasil menjual 3.000.000 alias tiga juta kali transaksi! Jika dalam tiga bulan dia berhasil membangun jaringan 100 orang, rata-rata setiap orang harus berhasil menjual 30.000 alias tigapuluh ribu kali transaksi!

Sebuah hal yang mustahal!!!

Posted by: sufimatre | April 16, 2008

Membandingkan WOM dan ADIRA Finance

Sekitar awal september 2006 saya kehilangan sepeda motor Supra Fit Disc. Pihak Adira hanya membutuhkan waktu 2 minggu untuk mencairkan klaim asuransi saya. Dengan cicilan yang baru masuk empat kali, plus dipotong biaya adm untuk pengurusan asuransi sebesar 700 rb saya masih mendapatkan penggantian sebesar Rp. 315 ribu. Secara kasar, saya hanya menelan kerugian sebesar 800rb atau 1,3 jt jika Dp diperhitungkan.

Akhir Desember 2007, tepatnya tanggal 25 Desember, saya kehilangan sepeda motor untuk yang kedua kalinya (ini membuktikan saya bukan Keledai :). Kehilangan yang kedua ini memberi rasa yang cukup sakit, mengingat cicilan yang sudah hampir setengahnya dan motor diambil dari halaman rumah. Yang membuat lebih sakit lagi adalah penanganan pihak leasing dalam hal ini WOM Finance, yang terkesan kurang professional. Klaim saya baru cair setelah menunggu hampir 4 bulan, dengan nilai penggantian yang sangat tidak masuk akal.

Total cicilan (563rb/bulan) yang sudah disetorkan sebanyak 13 kali atau berjumlah sekitar 7,3 juta. Namun saya hanya mendapatkan penggantian 278.000! jumlah ini malah lebih kecil dari yang saya terima saat mendapatkan penggantian dari Adira, padahal cicilan saya ke Adira baru masuk empat kali atau sekitar 1,7 jt, lebih aneh lagi, di WOM saya sengaja mengurus sendiri semua persyaratan untuk menghindari pemotongan sekitar 700rb untuk biaya adm pengurusan persyaratan asuransi. Karena saya tidak paham dengan model hitung-hitungan yang disodorkan WOM, saya hanya bisa pasrah menerimanya.

Meskipun demikian, saya dapat menunjukan adanya kejanggalan saat saya mencoba menghitungnya dengan pola yang sangat sederhana yaitu:

Kewajiban saya kepada WOM Finance = Hutang Pokok + Bunga + Denda keterlambatan

Hutang pokok : Rp. 13.600.000 (harga on the road Supra X 125 Disc standar)

Bunga : Rp. 2.700.000 (15 bulan x 1.3 x 13.600.000)

Denda : Rp. 430.000 (denda keterlambatan tertulis diprint out)

Total : Rp. 16.730.000

Penerimaan Cash WOM dari saya + penggantian Asuransi

Total cicilan tersetor   : Rp. 7.319.000 (13 x 563.000)

Penggantian Asuransi : Rp. 10.880.000 (80 %(sudah masuk tahun ke2) x 13.600.000)

Total : Rp. 18.199.000

Selisih : Rp. 1.469.000

Dalam persepsi saya selisih inilah yang seharusnya menjadi hak saya, bahkan selisih itu bisa jauh lebih besar 1,2 jt jika saya memasukan DP yang telah saya bayarkan ke penerimaan cash WOM.

Ironisnya lagi, saat saya hanya menerima penggantian sebesar 278.000 (artinya saya mengalami kerugian 7 juta, bahkan 8,2 juta jika dihitung dengan DP), maka pihak WOM justru diuntungkan dengan mendapat selisih lebih dari satu juta dibanding yang sehrusnya mereka terima.

Nah, Sebagai perbandingan, kita coba menghitung dengan menggunakan skema yang sama untuk Adira,

Kewajiban saya kepada Adira Finance = Hutang Pokok + Bunga + Denda + Biaya Adm

Hutang pokok : Rp. 11.500.000 (harga on the road Supra Fit Disc standar 2006)

Bunga : Rp. 900.000 (6 bulan x 1.3 x 11.500.000)

Denda : Rp. 156.000 (denda keterlambatan tertulis diprint out)

Biaya Adm : Rp. 700.000 (persyaratan diurus pihak Adira)

Total : Rp. 13.256.000

Penerimaan Cash Adira dari saya + penggantian Asuransi

Total cicilan tersetor : Rp. 1.916.000 (4 x 479.000)

Penggantian Asuransi : Rp. 11.500.000 (100% (masih tahun pertama) x 11.500.000)

Total : Rp. 13.416.000

Selisih : Rp. 166.000

Kenyataannya saya mendapatkan penggantian yang justru lebih besar dari nilai selisih.

Kesimpulan, Adira jauh bekerja lebih profesional dan transparan.


Posted by: sufimatre | April 16, 2008

Ayat-Ayat Cinta…

Akhirnya selesai juga kitab Ayat-Ayat Cinta saya baca. Tentu saja sebagai pembaca saya merasa berhak untuk memberikan penilaian pribadi atas novel fenomenal ini.

Penghargaan tertinggi saya adalah untuk kemampuan penulis menyampaikan pesan-pesan dan nilai-nilai keIslaman kedalam sebuah novel bergaya pop. Penulis (Kang Abik) terlihat begitu konsisten dengan misinya. Hal ini terbukti semua novelnya mengambil tema-tema yang hampir seragam. Meskipun demikian Ayat-Ayat Cinta (AAC) masih jauh lebih baik dibanding novel-novelnya yang lain, novel inilah dalam pandangan saya bisa dikatakan sebagai masterpiece nya Kang Abik.

Kekuatan AAC yang lain adalah pengambilan setting di Mesir. Penulis yang memang pernah tinggal di Mesir cukup lama, mampu menghadirkan gambaran sebuah sudut kota dengan cukup detail, lengkap dengan budaya dan keragaman orang-orangnya. Nilai jual dari setting dinegeri orang adalah pembaca seolah-olah dibawa berkunjung ketempat yang benar-benar baru, melintasi imajinasi kesehariaan pembacanya. Dengan bertaburan kata-kata dan istilah-istilah asing otak kita secara naluriah lebih peka dan perhatian. Tentu saja keahlian sang penulis pun sangat berperan dalam menjaga tingkat kejenuhan pembaca.

Cinta segi tiga tentu selalu memberi peluang kepada penulis untuk membuka pintu konflik selebar-lebarnya, apalagi di AAC cinta itu bersegi lima. Konflik yang diangkat dan plot yang digunakan cukup membuat siapapun kesulitan untuk menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Inilah barangkali yang membuat gemas sebagian pembacanya, sehingga ada yang menyatakan sulit untuk berhenti membaca sebelum tamat.

Perbedaan paling mencolok AAC dari novel sejenis lainnya dan menjadi nilai lebih adalah secara keseluruhan novel ini terasa lebih dewasa, namun begitu para remaja pun tak akan kesulitan untuk dapat menikmatinya.

Kekurangan yang paling mengganggu saya adalah masih banyak ditemukan baik dalam kalimat langsung maupun dalam deskriptif penjejalan nilai-nilai, norma-norma normatif layaknya seorang guru sekolah didepan kelas. Bagi sebagian orang yang alergi dengan model bertutur seperti ini akan membuat mereka lari.

Kekurangan kedua, masih ada hal-hal yang tidak logis dan sayangnya hal yang kurang logis ini terjadi justru pada puncak konflik, saat Fahri harus dipenjara dan berhadapan dengan pengadilan. Memasang Noura dengan peran antagonis dan membuat tuduhan palsu telah memerkosanya, adalah tindakan yang memerkosa logika pembaca. Jika tuduhan itu dibawah tekanan seorang yang aktif dibidang intelijen, tuduhannya menjadi terlalu sederhana dan mudah dipatahkan. Tanpa Maria (yang digambarkan berlebihan, tiba-tiba sehat setelah mendengar seseorang berbicara) pun Fahri dapat lolos dengan DNA, tak ada alasan bagi pengadilan menolak tes DNA.

kelemahan ketiga, dengan keluasan ilmu yang dipunyai penulis, saya yakin Kang Abik seharusnya mampu membuat semacam episode yang berhasil merukunkan dua istri yang dalam kehidupan nyata nyaris mustahil. Sayang, seperti banyak diungkap banyak kalangan novel ini jadi berkesan kurang berani, mematikan seseorang yang seharusnya bisa diekploitasi untuk sebuah gambaran ideal poligami.

Posted by: sufimatre | April 14, 2008

Polisi? Capee deh!

Bukannya tidak menghargai kerja keras Kapolda Jabar, tapi kalau punya anak buah bego, jadi kasian Pak Susno.

Hari ini, tadi pagi, saya telp ke Polwiltabes dengan keperluan nanya tarif resmi perpanjangan SIM B1. Si Bapak diseberang Telp menganjurkan saya untuk langsung menuju Mobil SIM yang lagi mangkal di Ciwalk. Dengan pertimbangan lebih dekat, saya langsung meluncur ke TKP. Di Ciwalk, orang berjejal seperti mau antre sembako. Seorang petugas duduk dikursi membagikan formulir. Mengingat takut mengganggu orang yang antri duluan saya tidak berani menyela untuk bertanya. Saya lebih memilih membaca poster yang terpampang di body mobil. Tak ada tarif yang tertulis, tak ada petugas cadangan, dengan samar-samar karena kaca mobil gelap saya melihat seorang ibu-ibu di dalam, entah lagi ngerjain apa. saya coba hubungi nomor telp bagian informasi yang tertulis diposter itu. Orang diseberang telp menganjurkan saya langsung datang ke Polwil? Apa gak gila tuh? bukannya tadi saya disuruh datang ke mobil SIM? alasannya katanya untuk sim B1 hanya bisa dilayani di Polwil. Karena keperluan saya hanya untuk mengetahui tarif, saya minta aja no telp Polwiltabes Bandung bagian SIM dan saya diberikan sebuah nomor. Coba tebak jawaban apa yang saya terima dari Polwiltabes bagian SIM itu? dengan enteng seorang ibu-ibu menjawab tidak tahu! alasannya orang bagian SIM-nya sedang tidak ada ditempat. Padahal itu sudah jam 09.30 WIB. Ketika saya jelaskan maksud saya ingin tahu tarif resmi perpanjangan SIM B1, si Ibu memberikan saya no telp yang lain. Karena saya benar-benar perlu, saya coba telp ke nomor yang diberikan si Ibu (no Flexy). Menurut orang yang saya hubungi di no terakhir ini, tarif SIM udah murah, tapi saat saya tanya pastinya berapa, dia jawab sekitar 300rb-an. Karena ingin kepastian saya pancing dengan pertanyaan bagaimana kalau ternyata lebih besar dari itu? dengan tidak kalah entengnya menganjurkan saya bawa uang lebih banyak!

Saya terhenyak. Betul juga ya, kenapa saya jadi bego begini…tapi kira-kira perlu bawa duit berapa ya? ada yang tahu?

Tapi, bukankah kesatuan yang berada dibawah Polwiltabes, Polres Bandung Barat sudah mendapatkan sertifikasi ISO untuk layanan publik? Masa ditanya tarif SIM aja susahnya minta ampun! Dapat sertifikasinya dari lembaga mana sih?

Posted by: sufimatre | April 14, 2008

Pilgub Jabar : Fantastik!

Apa yang tersaji dari hasil Quick Count adalah gambaran yang sangat nyata dan indah. Jawa Barat patut berbangga. Inilah hasil sebuah pesta demokrasi yang memberi kejutan kepada semua orang, bahkan juga kepada tim sukses pemenang.

Saya termasuk yang pesimis dan memandang sebelah mata kehadiran HaDe dikancah Pilgub Jabar. Dengan figur baru dan dana terbatas mereka seperti hadir dengan semangat untung-untungan. Satu hal yang saya lupa dan luput dari pengamatan (hampir semua orang), masyarakat sudah demikian cerdas, dewasa dan merasa jenuh dengan kehadiran tokoh-tokoh lama. Mereka benar-benar menginginkan perubahan dan penyegaran. Saya benar-benar dibuat malu, memandang masyarakat (rakyat) Jawa Barat selama ini terlalu rendah. Sebelumnya, saya beranggapan suara masyarakat dapat dibeli dengan uang atau ditukar sembako alakadarnya. Namun ternyata era itu sudah berlalu. Setidaknya Jawa Barat sudah memberikan contoh dan bukti kepada dunia, uang dan popularitas bukan segala-galanya.

Inilah hasil yang membalik logika. Sebelum hasil Quick Count (QC) dipublikasikan ke masyarakat luas, tidak ada seorang pun yang berani memberikan prediksi (logis) kemenangan kepada pasangan HaDe. Tidak berlebihan rasanya jika saya membandingkannya dengan kemenangan Ahmadinejad di Iran. Sama-sama berangkat dari bukan siapa-siapa. From zero to hero.

Inilah kemenangan rakyat. Suara nyaring sempurna untuk para birokrat yang ke geeran merasa sudah berbuat banyak. Inilah tamparan paling nyata untuk politisi yang kebanyakan bicara. Kemenganan ini ibarat kain lap yang menyumpal mulut mereka yang sering mengaku-ngaku membawa aspirasi dan suara masyarakat.

Ini juga bisa menjadi semacam peringatan kepada siapapun yang akan maju di Pilpres 2009, berhati-hatilah, anda akan dipilih oleh masyarakat yang sudah cerdas dan jenuh dengan muka-muka dan tabi’at lama.

Terakhir, Selamat untuk Tim Sukses HaDe yang telah bekerja keras. Selamat berjuang!

Hari ini, saya bangga menjadi warga Jawa Barat.

Posted by: sufimatre | April 10, 2008

Pilkada Jabar 2008 : Jendela Pemilu dan Pilpres 2009

Pilkada Jabar

Konon Pilkada Jabar mendapat perhatian dari masyarakat (media) barat. Mungkin karena Jawa Barat bisa dianggap representasi Indonesia dalam skala yang diperkecil. Meskipun memiliki jumlah penduduk dan luas wilayah yang hampir sama namun kompleksitas dan keragaman yang dimiliki Jawa Barat rada lain misalnya ketika dibandingkan dengan Jawa Timur. Perbedaan ini terutama sangat terlihat dari peta politik calon pemilih. Di Jawa Barat tidak ada partai yang benar-benar dominan seperti halnya PKB di Jawa Timur dan Golkar di Sulawesi Selatan.

Jika Melihat konfigurasi politik dari sebaran kursi di DPRD sebaran itu terlihat lebih merata dan lebih seimbang, konfigurasi ini lebih mendekati pola sebaran di DPR. Dari sinilah mungkin orang melihat Pilkada Jabar bisa menjadi prototipe dari gambaran suara Pemilu 2009 bukan hanya untuk melihat siapa mengalahkan siapa tapi lebih kepada mencari pendekatan politik paling mungkin untuk mempersiapkan strategi paling jitu dalam rangka meraih kursi diparlemen dan mengantarkan jagoannya merebut RI-1.

Golkar dan PDIP sebagai dua partai dengan suara terbanyak di DPRD Jabar saat ini akan menjadi dua lokomotif utama yang akan bersaing menempatkan jagoannya masing-masing. Siapapun yang berhasil memenangkan Pilkada Jabar pasti akan memberikan implikasi langsung terhadap gaya dan pendekatan politik dalam menghadapi Pemilu 2009.

Jika pasangan Dhani Setiawan-Iwan Sulanjana (Da’i) berhasil memenangkan Pemilu bisa dipastikan duet SBY-JK akan diperpanjang untuk masa lima tahun kedepan. Kemenangan Da’i jika benar-benar terjadi adalah kemenangan SBY-JK. Da’i adalah cetak biru kekuatan SBY-JK dari sisi manapun kita melihatnya. Da’i bukan hanya bisa dilihat sebagai koalisi Golkar-PD tapi juga Sipil-Militer dan pemegang kekuasaan (incumbent). Namun sebaliknya jika Da’i kalah Golkar bisa melihat ada alasan untuk meninggalkan Demokrat dengan mengusung jagoannya sendiri.

Pasangan Agum Gumelar dan Nu’man Abdul Hakim (Aman) yang merupakan koalisi gemuk multi partai bisa menjadi alat untuk mengukur sejauh mana mesin politik bisa memainkan perannya. Kekalahan Aman pada Pilkada Jabar hanya akan memberikan lampu kuning kepada Megawati dan PDIP untuk lebih berpikir keras mencari strategi agar jangan sampai kalah untuk kedua kalinya di 2009.

Adapun pasangan Ahmad Heriawan dan Dede Yusuf (Hade) dari awal masa penjaringan calon saya tidak melihat ada target maksimal dari pasangan ketiga yang merupakan koalisi bonsai PAN-PKS. PKS dan PAN yang berbasis sama di wilayah perkotaan dan belum mampu menjamah pelosok daerah, jelas terlihat memaksakan diri dan berharap keberuntungan yang nyaris mustahil. Kalau pun ada target, saya melihatnya hanya sebagai ajang pemanasan untuk mengukur potensi suara mereka di Pemilu 2009.

Konfigurasi inilah kira-kira yang akan dijalankan di Pemilu dan Pilpres 2009. Jika kecenderungan ini menguat kesimpulannya adalah masyarakat Indonesia tidak akan benar-benar mempunyai presiden baru di 2009. Jika bukan presiden yang ditetapkan sebagai presiden lagi alternatifnya adalah wakilnya yang naik menjadi presiden, atau mantan presiden menjadi presiden lagi.

Ayo pilih yang mana?

Older Posts »

Kategori